Zen Splaid
Zen bukanlah anak yang banyak bicara. Di sekolah, ia lebih sering terlihat duduk menyendiri di sudut perpustakaan atau di bawah pohon kamboja besar di pinggir lapangan. Teman-temannya sering menganggap Zen aneh karena ia selalu mengalungkan sebuah kamera tua berwarna perak ke mana pun ia pergi.
Bagi Zen, kamera itu bukan sekadar benda mati. Itu adalah "mata ketiga" yang membantunya memahami dunia yang terasa terlalu bising. Melalui lensa, Zen tidak melihat kekacauan; ia melihat detail yang dilewatkan orang lain—pola embun yang menggantung di helai rumput, garis-garis keriput di wajah penjaga sekolah yang selalu tersenyum, atau bagaimana cahaya matahari sore membelah awan menjadi warna oranye yang dramatis.
Suatu hari, sekolah mengadakan kompetisi esai tentang “Keindahan Desa Kita.” Saat murid lain sibuk menulis berlembar-lembar kertas berisi pujian yang klise, Zen hanya menyerahkan satu lembar kertas. Di tengah kertas itu, ia menempelkan sebuah foto: seorang nenek penjual sayur yang sedang membagikan sisa dagangannya kepada seekor kucing liar yang kelaparan. Di bawah foto itu, Zen hanya menulis satu kalimat:
“Keindahan bukan tentang apa yang kita miliki, tapi tentang apa yang kita berikan saat kita merasa tidak memiliki apa-apa.”
Ketika pengumuman pemenang tiba, seluruh aula terdiam. Foto Zen terpajang besar di layar utama. Kepala sekolah berdiri dan mengatakan bahwa Zen telah mengajarkan mereka semua cara untuk benar-benar “melihat.”
Zen tidak melonjak kegirangan. Ia hanya tersenyum tipis, mengangkat kameranya, dan memotret momen haru tersebut. Baginya, kemenangan bukanlah piala emas, melainkan saat pesan bisunya akhirnya terdengar oleh dunia. Sejak hari itu, Zen tetap menjadi anak yang pendiam, namun kini teman-temannya tahu bahwa di balik diamnya, Zen memiliki hati yang mampu menangkap sejuta warna kehidupan.
Setelah kemenangan itu, kehidupan Zen sedikit berubah. Teman-temannya mulai mendekat, bukan untuk mengejek, melainkan karena penasaran. Mereka ingin melihat dunia melalui sudut pandang Zen. Namun, Zen tetaplah Zen; ia tidak mendadak menjadi populer atau banyak bicara. Ia tetap setia dengan kesunyiannya, meski kini kesunyian itu terasa lebih hangat.
Suatu sore, seorang anak laki-laki bernama Rian menghampirinya. Rian adalah kapten tim basket yang biasanya sibuk dengan sorak-sorai penonton. Ia duduk di samping Zen yang sedang mengamati pantulan langit di genangan air sisa hujan.
“Kenapa kau memotret air kotor itu, Zen?” tanya Rian heran.
Zen tidak langsung menjawab. Ia menunjukkan layar kecil di kameranya kepada Rian. Di sana, genangan air yang tadinya terlihat kotor berubah menjadi cermin sempurna yang menangkap siluet gedung sekolah dan gradasi warna ungu langit senja. Genangan itu tidak lagi terlihat seperti limbah, melainkan seperti gerbang menuju dimensi lain.
“Kadang kita harus menunduk untuk melihat langit yang paling indah,” ucap Zen pelan.
Rian tertegun. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mendongak mencari kemenangan hingga lupa mengagumi hal-hal kecil di bawah kakinya.
Sejak saat itu, sebuah klub kecil bernama “Lensa Terbuka” terbentuk. Zen menjadi mentornya. Ia tidak mengajarkan teknik teknis yang rumit, melainkan mengajarkan cara merasakan sebuah momen sebelum menekan tombol rana.
Zen membuktikan bahwa keberadaan seseorang tidak diukur dari seberapa keras suaranya terdengar, melainkan dari seberapa dalam jejak yang ditinggalkannya di hati orang lain. Melalui kamera tuanya, ia terus bercerita tanpa suara, menyembuhkan luka melalui estetika, dan mengingatkan semua orang bahwa di dunia yang serba cepat ini, sesekali berhenti dan mengamati adalah sebuah keberanian yang luar biasa.
Questions
Character Story Pertama: No
Durasi bermain di JG:RP: 1 - 3 bulan
URL Namechange:
Account UCP yang saya miliki:
Tidak ada
Account Forum yang saya miliki:
Saya ali thalib selaku pemilik account UCP Zenamping bersedia jika Character saya yang disebut di atas (Zen Splaid) dibanned permanent jika character story yang saya buat di atas berupa plagiat dari story milik orang lain.