Jump to content
JG:RP sedang menjadi korban serangan DDoS dengan skala besar. Kami masih menunggu balasan dari pihak provider terkait serangan ini. ×

[ROLEPLAY DISCUSS] Realistis gak sih FnG yang bertemakan M.C membuat tag di hood lawan?


Recommended Posts

  • 2 months later...
Posted
On 5/8/2024 at 14.56, esceptico said:

 

Pertama, mari kita sepakati bersama-sama dulu penyebutan /M.C/ atau /geng motor/ ataupun /klub motor/ mengarah pada kelompok pengendara motor yang memiliki akar outlaw dan para anggotanya merupakan seorang one-percenter. Mengingat secara definitif, M.C. terbagi menjadi beberapa kategori, seperti para pengendara mayoritas yang baik(red: cupu) dan taat aturan; atau kumpulan pembegal maupun pengklitih di tanah air konoha yang masih harus kita pertanyakan secara struktural ataupun dapurnya. Jadi, penggunaan istilah M.C, geng motor, ataupun klub motor seterusnya dalam pembahasanku ini mengarah pada kelompok kriminal terstruktur tadi untuk mempermudah pembahasan.

 

Berbicara realistis atau enggak, tak ada informasi terkait yang dapat ku temukan tentang aksi geng motor melakukan aktivitas wall-tagging. Yang mungkin, sesuai dugaanku, bahwa di luar sana, anggota geng motor tak pernah melakukan hal tersebut di kehidupan mereka dengan mengatasnamakan kelompoknya.

 

Kedua, mari kita sedikit lebih dalam untuk melihat asal muasal dua pertanyaan yang kawan @Daffies ajukan. Akan aku ubah bentuk pertanyaannya agar memudahkan diriku membedahnya.

Pertanyaan pertama;

"Apakah M.C atau geng motor melakukan aktivitas wall tagging di hood lawan?"

Untuk menjawab pertanyaan pertama ini, aku pikir kita perlu melempar beberapa pertanyaan untuk kita tanyakan ke diri kita masing-masing.

- Apakah geng motor memiliki kebiasan tersebut?

Dan ya, aku pikir tidak.

- Apa yang kemudian menjadi urgensi sebuah kelompok geng motor melakukan hal tersebut?

Apakah karena tindakan tersebut akan menjadikan kelompok lawan tak ikut campur urusan mereka lagi.... aku pikir juga tidak.

- Lalu, sikap dan tindakan seperti apa yang akan geng motor ambil dalam menyikapi perselisian mereka dengan lawannya?

Pertanyaan kedua;

"Apakah geng motor melakukan wall-tagging sebagai tindakan balas dendam atas gang rival(mungkin mengarah ke street-gang) yang melakukan wall-tagging pada wilayah kekuasaannya?"

Kenapa mereka melakukan balas dendam dengan cara yang sama, bukankah hal tersebut sedikit jauh dari kebiasaan mereka ketika mereka meng-claim atau reclaiming suatu wilayah tertentu?

Mengingat tiap kelompok geng motor juga memiliki ciri khas masing-masing dalam bertindak. Mungkin mereka akan bersikap lebih diplomatis, non-heroism, atau bahkan terkesan kompromis. Dalam beberapa kasus mungkin akan seperti itu, dalam beberapa kasus lain mungkin tidak.

 

Geng motor dikenal sebagai suatu kelompok kriminal yang memiliki hierarki yang cukup ketat, terorganisir, dan dalam beberapa kelompok memiliki anggota dengan darah yang cukup dingin. Dan dengan demikian, mereka tak berkesempatan untuk menciptakan spontanitas versi Bookchin, baik dalam ranah ide-gagasan mapun praktik,[1] yang kadang masih dapat kita temukan dalam dinamika geng jalanan(street gang)

Dan sering kali, tindakan-tindakan non-spontanitas tersebut yang kemudian menjadi landasan kelompok geng motor menentukan sikap dalam permasalahan yang mereka hadapi, termasuk hal yang akan mereka lakukan terhadap lawan mereka, ketika wall tagging tak pernah tertulis di buku panduan 1%-er.

---

Jika secara tradisi aksi wall tagging dilakukan oleh suatu kelompok terhadap wilayah kelompok lain berakar dari permusuhan kedua belah pihak, yang keduanya merupakan geng jalanan(street gang), geng motor memiliki caranya sendiri dalam memenuhi kebutuhan existentialism mereka sebagai sebuah kelompok kriminal. Perlu diingat, tiap geng motor memiliki cara mereka sendiri dalam menangani suatu permasalahan yang terjadi dan tiap kelompok sangat mungkin memiliki perbedaan yang sangat beragam. Dan aku hanya akan memberikan /beberapa contoh kemungkinan/ yang mungkin akan terjadi atau dilakukan.

1. Jika geng motor memiliki permasalahan dengan geng lain

Alih-alih melakukan wall-tagging terhadap wilayah kekuasaan kelompok musuh, justru sering kali penanganan konflik dengan kelompok lain adalah proses yang cukup kompleks dan melibatkan berbagai strategi dalam lingkup geng motor. Dan konflik tersebut dapat memuncak, meskipun berangkat dari permasalahan kecil tumbuh jadi permasalahan yang cukup serius. Di sini peran dari metode atauun cara-cara yang mereka gunakan untuk menghadapi permasalahan tersebut menjadi cerminan atas dinamika konflik yang berjalan. (Penjelasan lebih lanjut akan ku jabarkan sekaligus di poin berikutnya).

2. Jika suatu wilayah yang merupakan wilayah kekuasaan geng motor ditemkan adanya coretan mural yang diindikasikan sebagai sign geng musuh.

Kita asumsikan, geng motor tersebut telah mengetahui pihak yang melakukan aksi mural di wilayahnya, dan telah melakukan identifikasi, serta konsolidasi internal klub, untuk menentukan upaya-upaya counter-act atas kejadian tersebut. Namun langkah yang mungkin akan dipilih setelahnya adalah peperangan atau melakukan mediasi dan perundingan, apalagi aktivisme wall-tagging yang dilakukan oleh geng saingan mulai sedikit tak terkendali, semisal. Mari kita melalui jalur non-perang dulu, untuk melihat bagaimana proses ini berlanjut.

Dalam situasi ini, pihak geng motor mencoba untuk menjalin komunikasi terhadap geng lawan guna mendiskusikan penyelesaian. Biasanya, pertemuan ini diadakan di tempat netral, jauh dari ketegangan yang mungkin ada di markas masing-masing klub. Tujuannya adalah untuk membahas akar penyebab adanya wall-tagging tersebut, —baik itu berakar pada pelanggaran teritorial, penghinaan, atau perselisihan bisnis—dan mencari jalan keluar. Kesepakatan yang mungkin dicapai dalam pertemuan ini dapat beragam, tiap geng motor memiliki cara maupun ciri masing-masing. Namun secara dangkal, mungkin pembahasan tersebut tak jauh-jauh dari perkara batasan wilayah, pembagian keuntungan, perjanjian damai sementara dengan beberapa consent, ataupun peperangan.

Kadang-kadang, perundingan ini melibatkan pihak ketiga yang dihormati oleh kedua belah pihak namun tidak terlibat langsung dalam konflik. Peran mereka adalah untuk memberikan perspektif dan terkesan membantu merumuskan solusi yang diterima oleh semua pihak. Pihak ketiga ini, seringkali memiliki reputasi baik yang dapat mempengaruhi keputusan kelompok-kelompok yang bertikai, membantu mengurangi ketegangan dan mencapai penyelesaian damai atau justru sebaliknya. Tergantung juga dengan kepentingan dari pihak ketiga ini. Bisa juga suasana malah menjadi semakin keruh.

 

Namun, ketika mediasi tidak membuahkan hasil, atau jika konflik terlalu mendalam, tindakan kekerasan terhadap kelompok lawan menjadi pilihan. Tiap chapter sering bernegosiasi satu sama lain tentang bagaimana balas dendam harus ditangani atau untuk mendapatkan sumber daya (peralatan, senjata, tenaga kerja) yang akan digunakan dalam permusuhan. (Quinn & Forsyth, 2011). Penganiayaan fisik sering dilakukan sebagai bentuk hukuman atau peringatan. Ini bisa melibatkan pemukulan atau penyerangan dengan senjata terhadap anggota kelompok lawan. Sebagian besar kekerasan terjadi di tempat-tempat terpencil atau pribadi, atau di bar, toko tato, jalanan sepi, dll., yang jelas jauh dari jangkauan masyarakat umum sehingga jarang membahayakan non-pengendara (Quinn & Forsyth, 2011). Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menghancurkan reputasi lawan, mengintimidasi mereka, dan mengirim pesan tentang kekuatan klub. Penganiayaan fisik ini sering kali merupakan langkah awal sebelum konflik berkembang lebih jauh. Insiden-insiden kekerasan terjadi secara berkala, dan di beberapa kota, ancaman ini memang nyata dan menciptakan ketakutan. Perang antar klub, yang sering berujung pada kekerasan serius seperti penyerangan berat atau bahkan pembunuhan, dilakukan untuk mempromosikan dan melindungi kepentingan klub (Gomez Del Prado, 2010).

Dalam kasus yang lebih dalam, pembunuhan menjadi langkah terakhir yang diambil. Pembunuhan biasanya ditujukan kepada anggota kunci dari kelompok lawan atau seseorang yang dituduh sebagai aktor di balik suatu pecahnya permasalahan, sebagai bentuk balasan atau peringatan yang lebih serius. Tindakan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan dampak psikologis yang mendalam pada lawan, namun juga untuk menunjukkan dominasi kekuasaan.

Geng-geng motor dikatakan melakukan berbagai jenis pelanggaran. Banyak peneliti sepakat bahwa tindakan kekerasan seperti perkelahian, penyerangan, dan bahkan pembunuhan merupakan bagian dari gaya hidup geng motor (Quinn & Forsyth, 2009; Gomez del Prado, 2010; Veno & Van De Eynde, 2007; Dagistanli et al., 2010; Barker, 2011; Huisman & Jansen, 2012).

Perkelahian ini sering kali terjadi di antara saingan dan merupakan masalah wilayah, tetapi juga terkait dengan reputasi yang sangat dihargai oleh geng-geng motor dan dapat berfungsi sebagai intimidasi (Quinn & Forstyh, 2009; Gomez Del Prado, 2010, Ayling, 2011).

 

Jika akar permasalahan berkaitan dengan perebutan teritorial, taktik yang digunakan bisa termasuk intimidasi langsung terhadap kelompok lawan atau bahkan kekerasan fisik untuk menegakkan klaim teritorial mereka.

Intimidasi adalah metode lain yang digunakan untuk menangani konflik ini. Ini dapat melibatkan ancaman kekerasan, penghinaan verbal, atau tindakan yang dirancang untuk membuat anggota kelompok lawan merasa terancam. Intimidasi ini bertujuan untuk mengendalikan atau menekan lawan tanpa melibatkan kekerasan fisik langsung. Dan hal ini berkaitan erat dengan nilai-nilai hidup seorang geng motor. Nilai-nilai seperti kelas sosial, keberanian, dan loyalitas kelompok memperkuat dinamika ini karena maknanya terdistorsi dalam upaya mencapai kemenangan. Ancaman seperti penjara, cedera, atau kematian menjadi kurang penting dibandingkan kebutuhan untuk segera melindungi kelompok. Konsekuensi dari kekalahan dianggap sama buruknya atau bahkan lebih buruk daripada ancaman tersebut. Kesulitan dan pengorbanan lebih mudah diterima ketika alternatifnya dilihat sebagai kehancuran total dan dominasi oleh musuh. Kekuatan menjadi sangat penting, dan hampir segala cara dianggap sah dalam upaya untuk bertahan hidup dan melindungi klub: Kejahatan yang lebih besar yang dilakukan oleh musuh adalah perwujudan kejahatan itu sendiri. Musuh hanya menjadi simbol kejahatan dan bahaya, sasaran kemarahan, dan kambing hitam atas segala sesuatu yang salah dalam kehidupan geng motor. Hal ini memudahkan mereka untuk melakukan kekejaman mulai dari perkelahian di bar hingga penyiksaan dan genosida. (Quinn & Forsyth, 2011)

Dalam beberapa kasus lain, geng motor memanfaatkan masa konflik sebagai jalan menuju keuntungan, baik secara finansial maupun dalam bentuk material lainnya. Kebrutalan dan pencarian keuntungan semakin mendominasi evolusi subkultur ini, membuat pengendara sepeda motor lebih kejam daripada geng etnis lama karena mereka terus-menerus berperang. Perang memfasilitasi proses ini karena mengaburkan penilaian dan memobilisasi semua anggotanya untuk melakukan hal tersebut. (Quinn & Forsyth, 2011)

 

Atau tindakan lain yaitu perusakan properti. Perusakan properti adalah metode kekerasan lainnya yang sering digunakan dalam konflik antara geng motor. Ini termasuk merusak fasilitas seperti markas lawan, kendaraan, dan properti milik anggota kelompok lawan. Perusakan ini bertujuan untuk mengirim pesan yang jelas kepada kelompok lawan tentang konsekuensi dari perselisihan yang ada. Sebagai contoh, sebuah klub mungkin memilih untuk menyerang dan merusak markas kelompok lawan sebagai bentuk balasan atau peringatan.

Pembakaran adalah bentuk kekerasan yang lebih dramatis dan melibatkan pembakaran properti milik kelompok lawan. Ini tidak hanya menyebabkan kerusakan material tetapi juga memiliki dampak simbolis yang kuat, menunjukkan keseriusan konflik dan penghinaan terhadap kelompok lawan.

 

Spionase juga merupakan bagian dari strategi konflik. Geng motor sering melakukan spionase untuk mengumpulkan informasi tentang kelompok lawan, termasuk aktivitas, anggota, dan rencana mereka. Informasi ini dapat digunakan untuk merencanakan taktik atau menghindari serangan.

Secara historis, pengumpulan intelijen menjadi fokus utama aktivitas dan investasi pada akhir 1960-an ketika beberapa cabang klub besar mulai menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengawasi berbagai saingan. Hal ini tetap menjadi salah satu aspek bisnis klub yang paling memakan waktu dan dijalankan dengan penuh semangat oleh semua klub besar dan yang lebih kecil. Seiring dengan semakin canggih dan termotivasinya para pengendara sepeda motor, mereka mulai mengakses teknologi paling modern dan sering kali memodifikasinya untuk tujuan mereka sendiri. Perangkat penglihatan malam dan lensa jarak jauh sangat populer, tetapi perangkat pelacak dan alat penyadap juga digunakan pada saat-saat tertentu. Memantau gosip di masyarakat salon[2] dan pinggirannya juga sangat penting bagi klub. Asosiasi perempuan sering berperan dalam upaya ini karena mereka biasanya bekerja di bar dan/atau industri seks tetapi jarang mengiklankan afiliasi mereka kepada pelanggan. Hubungan biker dengan industri seks menyediakan aliran uang tunai dan tempat pertemuan yang aman serta peluang pemerasan dan pencucian uang maupun gudang penggalian informasi. (Quinn & Forsyth, 2011)

 

Ketika konflik terlalu berat, geng motor mungkin memilih gencatan senjata atau perjanjian damai. Perjanjian damai ini sering kali melibatkan kesepakatan untuk menghentikan konflik dan menghindari kekerasan lebih lanjut. Ini mungkin termasuk batasan wilayah atau persetujuan untuk tidak saling menyerang. Perjanjian damai ini bisa bersifat sementara atau jangka panjang.

Perjanjian non-agresi juga dapat diadakan, di mana kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling menyerang dan menghormati batas-batas wilayah masing-masing. Ini bertujuan untuk mencegah konflik lebih lanjut dan menjaga stabilitas di antara kelompok-kelompok yang berseteru.

Namun, secara historis, pengendara sepeda motor berbeda dari penjahat jalanan lainnya karena kemampuan mereka untuk tetap termotivasi secara emosional dalam jangka waktu yang sangat lama sambil bertindak secara rasional saat mereka fokus pada "misi" tertentu untuk membiayai perang dan menghancurkan musuh. Anggota "one percenter" unggul dalam memenangkan persaingan sesuai norma mereka. Fokus pada detail misi memungkinkan mereka untuk mengesampingkan konteks emosional yang mendorong tindakan mereka dan hanya berkonsentrasi pada pelaksanaan tindakan itu sendiri. Keberhasilan adalah satu-satunya kriteria yang digunakan untuk menilai tindakan prajurit dan anggota klub jelas menganggap diri mereka sebagai prajurit dalam perjuangan hidup dan mati dengan saingan. Keanggotaan klub memastikan isolasi yang memperkuat nilai-nilai dan penghargaan di lingkungan tersebut dengan mengesampingkan pesaing. Selain itu, klub-klub tersebut hampir merupakan satu-satunya kelompok referensi bagi anggotanya dan dukungan sosial merupakan penawar kuat terhadap keraguan, penyesalan, dan rasa bersalah. Hal ini meningkatkan intensitas emosional hampir semua peristiwa karena setiap pria memperkuat emosi orang-orang di sekitarnya saat ia merespons berdasarkan norma kompetitif dari subkultur yang sangat maskulin. Identitas setiap pengendara sepeda motor diinvestasikan dalam masalah praktis peperangan dan suasana kompetitif di mana strategi dan metode yang potensial untuk mencapai kemenangan didiskusikan. Dengan demikian, kemarahan dan kebencian berkembang pesat terhadap musuh nyata dan potensial; hal ini memicu kelanjutan perang dan kekejaman taktik yang digunakan. Setiap pengendara sepeda motor terlibat dalam percakapan tentang strategi kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Mereka yang memiliki sikap paling intens cenderung menetapkan nada dalam pengambilan keputusan (misalnya, kebijakan). Yang lain harus mencerminkan intensitas itu atau mempertaruhkan keberanian atau loyalitas mereka terhadap kelompok yang dipertanyakan. Dengan demikian, setiap komentar cenderung meningkatkan kekerasan sekaligus mengaitkan superlatif pembalasan dengan identitas pribadi dan kolektif. Identitas sangat penting dalam masyarakat salon karena memberi kekuasaan. (Quinn & Forsyth, 2011)

Kadang-kadang, tindakan balasan atau provokasi dari satu kelompok dapat menyebabkan eskalasi konflik menjadi tingkat kekerasan yang lebih tinggi. Balas dendam sering kali dilakukan setelah serangan atau penghinaan, dan bisa melibatkan tindakan kekerasan atau sabotase. Eskalasi ini melibatkan peningkatan kekerasan yang melibatkan lebih banyak anggota dan bisa menjadi masalah besar bagi kedua belah pihak.

 

- - - - - - - - - -

 

Dalam konteks roleplay, sejauh ini yang ku tau, ada beberapa MC yang ngelakuin hal tersebut. Nah, haram atau enggak sih? Buat ngejawab hal tersebut, aku pikir narasi di atas sudah sangat cukup menjawab –walaupun mungkin  secara tidak langsung— kenapa para geng motor tidak melakukan aksi wall-tagging di kehidupan mereka. Sekali lagi, Itu bukan tradisi mereka.

Namun, jika memang aktivitas wall-tagging yang dilakukan oleh fraksi MC adalah bentuk keunikan dan pendalaman (development) fraksi tersebut maupu individu-individu di dalamnya, aku pikir hal ini dapat dijadikan landasan sebagai peng-halal-an wall-tagging activism oleh fraksi MC dalam ekosistem roleplay.

Sebagai tambahan, beberapa peneliti menyatakan bahwa hampir semua anggota geng motor memiliki loyalitas yang kuat, solidaritas tanpa batas, dan pengorbanan diri yang tinggi untuk klubnya. Yang kemudian, hal tersebut menjadi modal dalam serangkaian aktivitas kejahatan terorganisir mereka. (Quinn & Koch, 2010:287; Barker, 2011; Huisman & Jansen, 2012:95,104). Daftar panjang aktivitas kriminal yang dilakukan oleh geng motor mencakup penipuan, pemerasan, pencurian, prostitusi, pemerasan, kepemilikan dan perdagangan senjata serta barang curian, produksi dan ekspor narkoba, pembunuhan, dan penyerangan (Katz, 2011; Barker, 2011; Gomez del Prado, 2010; Huisman & Jansen, 2012). Dengan daftar luas berbagai pelanggaran kriminal ini, isolasi dan persaudaraan yang kuat di dalam klub membuat mereka sulit untuk diprediksi dan dilacak. Dan bagi mereka, reputasi merupakan hal yang sangat penting, dengan banyak cabang di seluruh dunia (Barker, 2005). Jaringan ini digunakan untuk mengesankan musuh, menunjukkan kekuatan, dan mengamankan klub itu sendiri (Yablonsky, 1962:156-157).

Faktanya, motif dari seerangkaian tindakan di atas tidak selalu jelas. Mungkin berawal dari masalah perebutan wilayah dengan kelompok lain, atau karena ada seorang pengendara motor 99% telah mengatakan sesuatu yang salah di tempat yang salah, atau karena sekelompok remaja etnis tertentu yang tinggal di perbatasn wilayah kekuasaan geng motor dengan/tanpa sengaja melakukan wall-tagging melewati dan masuk batas wilayah kekuasaan geng motor tersebut. Ini semua dapat menyebaban perkelahian, perusakan property, pembunuhan, dan histeria peperangan antar geng, polisi, dan Masyarakat (Yablonsky, 1962:157-158).

 

Jadi kesimpulannya, masihkah ada alasan bagi para 1%-er untuk melakukan aktivitas wall-tagging?


Footnotes

  Reveal hidden contents

[1] Menurut Bookchin, spontanitas adalah serangkaian perilaku, perasaan, dan pikiran yang bebas dari kendala eksternal, dari pembatasan yang dipaksakan. Sejauh individu menyingkirkan belenggu dominasi yang telah menghambat aktivitas dirinya, dia bertindak, merasa, dan berpikir secara spontan. Dan seorang one-percenter akan sulit untuk merelease spontanitas mereka karena terbentur dengan /kendala eksternal/ yaitu klub mereka, saudara-saudara biker mereka. Yang mana dominasi kelompok atas individu terjadi dalam konteks ini.

Bookchin menekankan bahwa spontanitas, dalam pengertian yang digunakannya, biasanya menghasilkan bentuk-bentuk organisasi yang tidak hierarkis. Yang kemudian akan sangat jarang kita temui tindakan-tindakan spontanitas dalam ekosistem geng motor.

Bookchin di sini menggunakan kata /spontanitas/ sebagaimana kita menggunakan kata /otonomi/. Aktivitas dan kehidupan yang otonom — baik dalam ranah praktik maupun dalam ranah ide — tidak mungkin terjadi dalam organisasi yang terstruktur secara hierarkis. https://theanarchistlibrary.org/library/murray-bookchin-on-spontaneity-and-organisation

[2] Masyarakat salon dalam konteks geng motor merujuk pada komunitas atau subkultur yang berkumpul di sekitar bar atau tempat minum yang sering dikunjungi oleh anggota geng motor. Bar-bar ini, sering disebut sebagai "salon," menjadi tempat berkumpul di mana anggota geng motor bisa bersosialisasi, merencanakan kegiatan, atau hanya bersantai bersama. Salon sering kali menjadi pusat kehidupan sosial bagi anggota geng motor, tempat mereka merasa diterima dan dapat mengekspresikan diri tanpa takut penilaian dari masyarakat luar(mayoritas).

 

Bibliography

  Reveal hidden contents

Ayling, Julie (2011). “Pre-emptive Strike: How Australia is Tackling Outlaw Motorcycle Gangs”. American Journal of Criminal Justice. Vol 36 (3):250-264.

Barker, Tom (2005). “One percent biker clubs: A description”. Trends in Organized Crime. Vol 9 (1):101-112.

Barker, Tom (2011). “American Based Biker Gangs: International Organized Crime”. American Journal of Criminal Justice. Vol 36 (3):207-215.

Bookchin, Murray (1975). "On Spontaneity and Organisation". London.

Dagistanli, Morgan, George, Dagistanli, Selda & Martin, Greg (2010). "Global Fears, Local Anxiety: Policing, Counterterrorism and Moral Panic Over ‘Bikie Gang Wars’ in New South Wales”. The Australian and New Zealand Journal of Criminology. Vol 43 (3): 580-599.

Gomez del Prado, Grégory (2010). ”Outlaw motorcycle gangs’ attempted intimidation of Quebec’s police forces”. Police Practice and Research: An International Journal. Vol 12 (1): 66-80.

Huisman, Sander & Jansen, Floor (2012). “Willing offenders outwitting capable guardians”. Trends in Organized Crime. Vol 15 (2/3): 93-110.

Katz, Karen (2011). “The Enemy Within: The Outlaw Motorcycle Gang Moral Panic”. American Journal of Criminal Justice. Vol 36(3): 231-249.

Quinn, James F. & Forsyth, Craig J. (2009). “Leathers and Rolexs: The Symbolism and Values of the Motorcycle Club”. Deviant Behavior. Vol 30 (3): 235-265.

Quinn, James F. & Koch, Shane D. (2010). “The nature of criminality within one-percent motorcycle clubs”. Deviant Behavior. Vol 24 (3): 281-305.

Quinn, James Forsyth, Craig J. (2011). “The Tools, Tactic, and Mentality of Outlaw Biker Wars”. American Journal of Criminal Justice. P: 3-12.

Veno, Arthur & Van Den Eynde, Julie (2007). "Moral Panic Neutralization Project: A Media-based Intervention”. Journal of Community & Applied Social Psychology. Vol 17 (6): 490-506.

Yablonsky, Lewis (1962). The Violent Gang. New York: The Macmillan Company.

 

terimakasih atas ilmunya pak! +1 ijin rangkum penjelasannya.

Posted

saya abis nanya-nanya ke temen saya kurang lebih jawabannya gini kalau dibayangkan FnG atau MC yang bertema seperti itu melakukan tagging di “hood lawan”, itu sebenarnya masih bisa dibilang agak realistis, tapi cuma dalam skala kecil dan tidak seintens seperti di cerita atau film. Di dunia nyata, aksi seperti coret-coret atau graffiti memang pernah dipakai sebagai bentuk eksistensi atau tanda keberadaan kelompok tertentu, biasanya di level individu atau crew kecil, bukan sebagai strategi besar yang dilakukan organisasi motor yang terstruktur, justru yang kurang realistis adalah kalau MC itu digambarkan benar-benar punya konflik teratur dengan MC lain lalu sengaja masuk ke wilayah lawan hanya untuk bombing wall secara terus-menerus. Dalam real life, kelompok motor yang terorganisir biasanya lebih berhati-hati karena risiko hukumnya tinggi, mudah dilacak, dan juga bisa merugikan nama kelompok mereka sendiri. Konflik antar kelompok kalaupun ada, jarang diekspresikan lewat vandalisme terbuka seperti itu.


Jadi intinya, ide tagging di hood lawan itu masih mungkin terjadi kalau konteksnya kecil, spontan, atau dilakukan individu, tapi kalau dibayangkan sebagai “perang MC ke gang lain lewat bombing wall” yang sistematis, itu sudah lebih ke dramatisasi daripada realita.

  • 2 weeks later...

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
×
×
  • Create New...