Jump to content
JG:RP sedang menjadi korban serangan DDoS dengan skala besar. Kami masih menunggu balasan dari pihak provider terkait serangan ini. ×

Erick Setiawan Hertanto

New Member
  • Posts

    14
  • Joined

  • Last visited

Recent Profile Visitors

The recent visitors block is disabled and is not being shown to other users.

Erick Setiawan Hertanto's Achievements

Newbie

Newbie (1/7)

0

Reputation

  1. 1. Apakah kamu menggunakan AI? [tidak] 2. Apakah kamu meniru atau memlagiat CS milik orang lain? [tidak,saya murni buat sendiri]
  2. Apakah ini adalah pertama kali kamu membuat Character Story ? Ya Sudah berapa lama kamu main JG:RP? ( 1 - 3 bulan ) Apakah character ini baru kamu buat atau baru melakukan prosess Namechange ? (Buat baru) Apakah kamu memiliki account UCP selain yang kamu mainkan saat ini? (Tidak) Apakah kamu memiliki account Forum selain yang kamu pakai saat ini? (Tidak) Dimana tempat kamu bermain sekarang? (Di rumah )
  3. Erick_Devandra Erick Devandra lahir pada 18 Desember 1998, di sebuah desa kecil di Indonesia yang seolah tertinggal oleh kemajuan zaman. Ia lahir bukan di rumah sakit mewah, melainkan di dalam sebuah gubuk tua dengan dinding bambu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Kehidupan Erick kecil adalah definisi dari perjuangan bertahan hidup. Ayahnya adalah seorang buruh serabutan yang penghasilannya tidak menentu tergantung pada ada atau tidaknya proyek bangunan atau tenaga yang dibutuhkan di ladang orang lain. Sementara itu, ibunya adalah seorang pedagang kecil yang setiap hari menjajakan barang dagangan di pasar dengan harapan ada sisa uang untuk makan esok hari. Kemiskinan ini membuat Erick menjadi sasaran empuk perundungan di sekolah. Saat teman-temannya memamerkan mainan baru atau sepatu bermerek, Erick hanya bisa menunduk, menyembunyikan jempol kakinya yang mulai terlihat karena lubang di sepatunya yang usang. Ejekan anak miskin atau si bau pasar menjadi makanan sehari-hari. Hal inilah yang membentuk Erick menjadi sosok yang sangat pendiam, tertutup, dan memiliki krisis kepercayaan diri yang akut. Ia lebih memilih untuk menghilang di balik bayang-bayang daripada harus berinteraksi dengan lingkungan yang hanya bisa menghakiminya. Memasuki usia 16 tahun, saat remaja lain sibuk dengan cinta monyet, Erick menghabiskan waktunya membantu ibunya berjualan. Kondisi keluarga semakin terdesak ketika sang ibu didiagnosis menderita TBC akut. Suara batuk ibunya yang menyesakkan dada setiap malam menjadi pengingat bagi Erick bahwa waktu mereka mungkin tidak lama lagi. Di sela-sela waktu sekolah dan bekerja, Erick sering melamun di pinggir sawah, memikirkan masa depannya. Apakah ia harus tetap di kampung menjaga orang tuanya, atau pergi merantau untuk mengubah nasib? Tiga tahun kemudian, sesaat setelah Erick menyelesaikan pendidikan SMA, takdir membawanya ke titik terendah. Ibunya terbaring sekarat di atas kasur tipis yang sudah keras. Dengan suara parau, sang ibu memegang tangan Erick dan memohon agar putra tunggalnya itu pergi merantau keluar kota atau bahkan keluar negeri. Erick menangis sejadi-jadinya, ia memeluk tubuh ibunya yang kurus kering, bersumpah tidak akan meninggalkan keluarga dalam kondisi sesulit ini. Namun, dengan tatapan penuh kasih dan ketegasan terakhirnya, sang ibu meyakinkan Erick bahwa diam di kampung hanya akan membuat kemiskinan mereka abadi. Tak lama setelah pembicaraan emosional itu, sang ibu berpulang ke Yang Maha Kuasa. Kepergian itu meninggalkan luka yang sangat dalam bagi Erick dan ayahnya.Satu bulan setelah pemakaman, Erick masih terpuruk dalam duka. Namun, sebuah panggilan telepon mengubah segalanya. Itu adalah Gufta Parsha, satu-satunya teman SMA yang tidak pernah merendahkannya. Gufta adalah sosok yang selalu berhasil membuat Erick tertawa di masa-masa sulit sekolah. Dalam percakapan panjang itu, Gufta menceritakan pengalamannya di sebuah kota bernama Los Santos dan menawarkan Erick untuk menyusul ke sana. Awalnya, Erick menolak karena merasa berat meninggalkan ayahnya yang kini hidup sendiri. Namun, bayangan wajah ibunya dan pesan terakhirnya terus menghantui pikirannya. Erick menyadari bahwa menetap di kampung hanya akan membuatnya terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama. Dengan restu dan air mata dari ayahnya, serta janji suci untuk mengirimkan uang setiap bulan guna memperbaiki gubuk mereka, Erick akhirnya membulatkan tekad. Dengan tas ransel tua dan modal keberanian, Erick Devandra melangkah menuju bandara. Los Santos adalah tanah harapan baru baginya. Ia tidak lagi ingin menjadi Erick yang pendiam karena malu; ia ingin menjadi Erick yang bekerja keras demi martabat keluarganya. Perjalanan panjang dimulai, dan Los Santos akan menjadi saksi apakah Erick mampu menaklukkan takdirnya atau justru tenggelam dalam kerasnya kota metropolitan. Questions Character Story Pertama: Yes Durasi bermain di JG:RP: 1 - 3 bulan URL Namechange: Account UCP yang saya miliki: Erick2008 Account Forum yang saya miliki: Saya Erick Setiawan Hertanto selaku pemilik account UCP Erick2008 bersedia jika Character saya yang disebut di atas (Erick_Devandra) dibanned permanent jika character story yang saya buat di atas berupa plagiat dari story milik orang lain.
×
×
  • Create New...