Axelino Montevalco
Pagi itu di kota kecil Cedar Rapids, Iowa, Amerika Serikat, 17 Oktober 2007, langit masih kelabu ketika Axelino Montevalco lahir di sebuah rumah sakit komunitas dekat pusat kota. Udara musim gugur terasa dingin dan daun-daun menguning berjatuhan di sepanjang trotoar. Ibunya, Yuni, bekerja sebagai asisten guru taman kanak-kanak, sementara ayahnya, Roni, adalah sopir truk distribusi untuk perusahaan logistik lokal. Keluarga mereka tinggal di rumah sederhana di lingkungan pekerja dengan dua kamar tidur dan halaman depan yang sempit. Meski hidup pas-pasan, rumah mereka selalu terasa hangat oleh aroma sup ayam, kentang panggang, dan masakan rumahan lainnya. Sejak kecil, Axelino dikenal sebagai anak yang pendiam. Ia lebih suka duduk di teras memperhatikan kendaraan yang lewat daripada bermain ramai bersama anak-anak lain. Namun, semuanya berubah saat ia berusia 15 tahun. Suatu malam ayahnya pulang dengan wajah lelah dan hanya berkata, "Aku cuma capek." Keesokan harinya sebuah ambulans berhenti di depan rumah mereka. Roni mengalami kecelakaan kerja yang membuatnya tidak bisa bekerja selama berbulan-bulan. Tagihan mulai menumpuk, tabungan menipis, dan Axelino yang biasanya diam harus membantu ibunya mengurus berbagai urusan rumah sakit dan administrasi.
Di tengah tekanan itu, Axelino mulai memahami kerasnya kehidupan. Suatu malam ia diam-diam menjual sepeda gunung kesayangannya untuk membantu kebutuhan keluarga. Setelahnya ia berjalan pulang beberapa kilometer dalam udara dingin sambil menahan perasaan yang tidak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Yang paling membekas dalam ingatannya bukanlah rasa lelah itu, melainkan suara ibunya yang terdengar dari ruang tamu saat berbicara di telepon. "Kita hampir tidak punya apa-apa lagi." Setahun kemudian, Axelino mulai bekerja paruh waktu di bengkel milik temannya, Arul, di kawasan industri dekat jalur kereta barang. Tangan yang dulu bersih kini selalu dipenuhi noda oli dan bekas goresan. Anehnya, ia menemukan ketenangan di sana. Ia belajar memperbaiki mobil, memahami mesin, dan menghadapi kesalahan tanpa menyerah. Pernah suatu kali ia salah memasang komponen transmisi hingga harus mengganti kerugian dengan sebagian besar gajinya selama sebulan. Saat ia mengira akan dimarahi, Arul hanya tertawa dan berkata, "Santai saja. Semua mekanik pernah melakukan kesalahan." Kalimat sederhana itu menjadi salah satu hal yang selalu diingatnya.
Kini, pada usia 18 tahun, rutinitas Axelino dimulai pukul lima pagi. Ia membantu ibunya menyiapkan pesanan makanan rumahan sebelum berangkat ke bengkel. Kadang aroma bawang dan rempah-rempah masih menempel di jaket kerjanya ketika mulai bekerja. Di sela-sela kesibukan, ia ikut balapan motor jalanan yang sering berlangsung larut malam di kawasan pergudangan yang sepi. Teman-temannya menjulukinya "Cold Axel" karena ia hampir tidak pernah marah atau menunjukkan emosi, bahkan ketika memenangkan balapan. Namun, di balik sikap tenangnya, ada malam-malam ketika lampu kamarnya tetap menyala hingga lewat pukul dua dini hari. Pada saat-saat seperti itu, ia membuka laci kecil di samping tempat tidur dan melihat kembali foto-foto lama keluarganya. Di salah satu foto, ayahnya tersenyum lebar di depan truk yang dulu dikendarainya. Warna foto itu mulai memudar, tetapi kenangannya tetap hidup. Keesokan paginya, Axelino akan bangun lagi, mengenakan seragam bengkel yang mulai usang, lalu menjalani hari seperti biasa. Axelino akan terus melangkah tanpa banyak mengeluh, membawa harapan bahwa suatu hari nanti hidupnya akan berubah menjadi lebih baik, meskipun ia belum tahu kapan hari itu akan datang.
Questions
Character Story Pertama: Yes
Durasi bermain di JG:RP: Kurang dari 1 bulan
URL Namechange:
Account UCP yang saya miliki:
Tidak ada
Account Forum yang saya miliki:
Saya Balbaldop selaku pemilik account UCP Baldop123 bersedia jika Character saya yang disebut di atas (Axelino Montevalco) dibanned permanent jika character story yang saya buat di atas berupa plagiat dari story milik orang lain.