yourepoor Posted 48 minutes ago Posted 48 minutes ago (edited) UCP Name: gotDeath Old Character: Terje Aakre Old Character Story: https://jogjagamers.org/topic/381838-terje_aakre-gotdeath/#comment-3884279 New Character: Gideon Sequoyah Gender: Laki-laki (Male) Origin: South Dakota, USA Reason for name change request: Ingin mengganti alur roleplay dan ingin bergabung fng Screenshots of '/myid' and '/mp': Bukti SS JAIL: SS /MP: SS /MYID: CK Story: Spoiler Terje Aakre merupakan pria kelahiran Norwegia yang kini terpaksa mengadu nasib di kerasnya lingkungan kota Los Santos. Kehidupan di kota metropolitan ini nyatanya tidak seindah yang ia bayangkan sewaktu masih di Eropa. Sehari-hari, ia harus membanting tulang menyambung hidup sebagai seorang sopir truk lintas kota, mengendalikan armada besar melewati jalur-jalur sepi yang rawan bahaya. Sayangnya, beban kerja yang berat itu masih ditambah dengan tekanan batin dari lingkungan sekitarnya. Perjalanan kerja Terje sering kali diwarnai pengalaman tidak mengenakan; ia kerap menerima perlakuan diskriminatif, tatapan sinis, hingga cibiran kasar dari sesama sopir di pangkalan jalanan hanya karena warna kulitnya yang cenderung gelap. Namun, Terje selalu mencoba menutup telinga dan tetap fokus pada kemudi demi bisa mengumpulkan dolar demi dolar untuk bertahan hidup. Suatu hari, Terje mendapat orderan muatan yang cukup besar untuk rute jarak jauh, yaitu dari pedesaan terpencil Angel Pine menuju kawasan Montgomery. Jalur yang panjang, gersang, dan berkelok mulai menguras staminanya secara perlahan. Di tengah perjalanan, ketika melintasi wilayah Red County, ia memutuskan untuk mengistirahatkan mesin truknya sejenak dan mengisi perut di sebuah warung kelontong pinggir jalan yang masuk dalam wilayah kota Blueberry. Di sanalah ia tak sengaja bersua dengan Meriadoc, kawan lamanya semasa pertama kali merintis hidup di kota ini. Pertemuan singkat yang awalnya penuh tawa itu mendadak berubah tegang ketika Meriadoc mendengar tujuan akhir perjalanan Terje. Meriadoc yang paham betul situasi hitam jalanan langsung mewanti-wanti Terje dengan nada berbisik agar tidak usah nekat melanjutkan perjalanan ke Montgomery hari itu, sebab wilayah tersebut dikabarkan sedang rawan aksi begal bersenjata yang tidak segan-segan melukai korbannya. Namun, karena ambisinya yang tinggi untuk mengejar target setoran dan menyelesaikan tugas lebih cepat agar bisa beristirahat, Terje memilih mengabaikan peringatan tersebut. Sambil tersenyum meremehkan, ia menghabiskan sisa makanannya, berpamitan, lalu langsung tancap gas lagi membelah jalanan menuju Montgomery. Setibanya di Montgomery, proses bongkar muat barang di gudang tujuan berjalan dengan sangat lancar tanpa kendala berarti. Begitu seluruh dokumen perjalanan selesai ditandatangani, sang bos langsung mengirimkan uang upah lembur beserta bonusnya lewat transfer bank. Bunyi notifikasi m-banking di sakunya membuat seluruh rasa lelah Terje menguap begitu saja. Tanpa pikir panjang, ia segera berjalan kaki mencari mesin ATM terdekat di sudut kota untuk menarik tunai seluruh uang tersebut dari rekeningnya. Melihat tumpukan lembaran uang yang tebal di dalam dompetnya, Terje merasa sangat puas dan bangga. Ia pun memutuskan untuk memanjakan diri dengan mampir ke sebuah konter gadget mewah demi menebus handphone keluaran paling anyar yang sudah berbulan-bulan ia idamkan melalui video ulasan di internet. Rasa bangga menyelimuti hatinya saat melangkah keluar menenteng kantong belanjaan berisi ponsel mahal tersebut. Ketika hendak berjalan kembali ke arah tempat truknya diparkir, langkah Terje sempat terhenti di sebuah gang yang agak sepi dan minim penerangan. Badannya terasa sangat kaku dan pegal-pegal akibat menyetir seharian penuh tanpa jeda yang layak. Namun, tepat saat ia sedang mendongakkan kepala dan meregangkan otot-otot tubuhnya, keheningan sore itu mendadak pecah. Dari kejauhan terdengar suara raungan melengking dari mesin motor sport hitam yang melaju sangat kencang, langsung mengarah ke posisinya berdiri. Yang membuat Terje heran dan sempat terpaku, si pengendara motor itu memakai jaket kulit yang model, potongan, dan warnanya persis sekali dengan jaket yang sedang ia gunakan saat itu. Begitu ban motor berdecit berhenti di depannya, si pengendara langsung melompat turun. Tanpa basa-basi, ia mencabut sebilah senjata api, menodongkannya tepat ke arah dada Terje, dan membentak keras dengan suara parau, "Sini, jangan banyak tingkah! Serahin semua duit sama hp baru lu sekarang juga!" Seketika itu juga nyali Terje menciut, dan rasa panik yang hebat langsung menyerang kepalanya. Sambil mengangkat kedua tangan, ego Terje bergejolak di dalam batinnya. Ia merasa sangat tidak sudi jika uang hasil keringatnya yang dikumpulkan dengan susah payah harus raib begitu saja dalam hitungan detik di tangan seorang kriminal. Cekcok mulut pun tak terhindarkan; Terje mencoba bernegosiasi dan memohon, namun hal itu justru membuat si perampok kehilangan kesabaran. Suasana makin genting dan mencekam saat si bandit terus merangsek maju sembari melontarkan ancaman pembunuhan yang keji. Merasa nyawanya terancam dan tidak ada orang lain di sekitar tempat itu yang bisa menolong, Terje nekat mengambil tindakan ekstrem. Ia memanfaatkan celah saat si perampok sedikit lengah untuk mendorong dada pria misterius itu sekuat tenaga. Dorongan keras penuh keputusasaan itu sukses membuat si bandit kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke atas permukaan aspal yang keras. Naik pitam karena mendapat perlawanan dari korbannya, perampok tersebut langsung bangkit dengan gerakan yang sangat cepat dan lincah. Matanya menyiratkan amarah yang luar biasa di balik helmnya. Ia langsung mencabut pistol otomatis dari balik pinggangnya, lalu tanpa ragu melepaskan tembakan telak yang bersarang di dada kiri Terje. Rasa panas yang membakar seketika menjalar ke seluruh tubuh, namun aliran adrenalin yang memuncak membuat Terje tetap memaksakan kakinya untuk berbalik dan berlari sekencang mungkin demi menyelamatkan diri. Sayang, langkah kakinya yang mulai melemah kalah cepat dengan kecepatan peluru. Si perampok yang sudah gelap mata dan penuh dendam melepaskan tembakan beruntun secara membabi buta dari arah belakang. Peluru-peluru itu menembus punggung Terje hingga ia langsung tumbang, roboh ke tanah dengan darah segar yang terus mengucur deras membasahi pakaiannya. Pandangan Terje perlahan mulai kabur dan menggelap saat ia mengembuskan napas terakhirnya di jalanan dingin Montgomery. Tanpa belas kasihan sedikit pun, pelaku langsung menguras seluruh isi kantong pakaian Terje, menggasak dompet tebal serta kotak handphone barunya, lalu langsung tancap gas menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan jasad Terje yang kaku bersimbah darah. CK Screenshots: Bukti Edited 20 minutes ago by yourepoor
Recommended Posts
Create an account or sign in to comment
You need to be a member in order to leave a comment
Create an account
Sign up for a new account in our community. It's easy!
Register a new accountSign in
Already have an account? Sign in here.
Sign In Now